WHOIS Lookup: melacak jejak kepemilikan domain dan IP
WHOIS itu seperti buku catatan publik internet. Setiap domain yang terdaftar meninggalkan jejak: kapan didaftarkan, lewat registrar mana, kapan kedaluwarsa, dan nameserver apa yang dipakai. Dulu data ini terbuka lebar, termasuk nama dan email pemiliknya. Sekarang ceritanya agak berbeda.
Sejak aturan privasi seperti GDPR mulai berlaku, banyak data pribadi disembunyikan. Jadi jangan kaget kalau bagian kontak muncul sebagai redacted. Meski begitu, informasi yang tersisa masih sangat berguna, terutama saat Anda mau membeli domain bekas, mengecek keaslian sebuah situs, atau sekadar memastikan kapan domain Anda sendiri harus diperpanjang.
Kenapa kami pakai RDAP
Tool ini tidak mengandalkan WHOIS lawas yang formatnya berantakan dan beda-beda tiap registry. Kami pakai RDAP, penerus resminya, yang mengembalikan data dalam format rapi dan konsisten. Hasilnya lebih mudah dibaca dan jauh lebih andal diakses dari mana saja karena berjalan di atas HTTPS. Buat Anda yang sering kena tembok saat query WHOIS port 43 diblokir hosting, RDAP adalah penyelamat.
Yang bisa Anda gali dari WHOIS
- Tanggal kedaluwarsa — paling sering dicek. Telat sehari saja domain bisa nonaktif dan trafik Anda anjlok.
- Registrar — tahu di mana domain dikelola berguna saat mau transfer atau menelusuri masalah.
- Status domain — kode seperti clientTransferProhibited menandakan kunci keamanan yang mencegah transfer tidak sah.
- Nameserver — memastikan domain mengarah ke penyedia DNS yang benar.
Bukan cuma domain, IP juga bisa
Masukkan alamat IP, dan tool ini menelusuri ke Regional Internet Registry yang mengelolanya. Untuk Indonesia dan Asia Pasifik, datanya datang dari APNIC. Anda akan melihat organisasi pemilik blok IP, rentang alamatnya, sampai negara alokasi. Informasi ini berguna saat menyelidiki dari jaringan mana sebuah trafik mencurigakan berasal.